Yaman kembali berada pada titik krusial dalam stabilitas militernya. Pernyataan terbaru dari Menteri Pertahanan Mohsen al-Daari menunjukkan adanya ketegangan internal di jajaran militer terkait kebijakan yang diambil oleh Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial (PLC), Rashad Al-Alimi.
Al-Daari menilai beberapa keputusan PLC dan dukungan yang diberikan oleh Arab Saudi sebagai “ill-considered” atau kurang diperhitungkan. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan tentang adanya perbedaan pandangan strategis di antara pimpinan militer dan politik Yaman.
Keretakan yang disebut al-Daari tampak berkaitan dengan integrasi pasukan yang beroperasi di luar kerangka Kementerian Pertahanan. Beberapa unit militer dan formasi independen belum sepenuhnya tunduk pada komando pusat.
Sementara itu, Kepala Staf Umum Sagheer Hamoud Aziz menegaskan pentingnya kepatuhan seluruh unit militer terhadap keputusan Ketua PLC. Ia menyerukan integrasi penuh semua pasukan ke dalam kerangka Kementerian Pertahanan dan Staf Umum.
Aziz juga menekankan perlunya STC dan pasukan afiliasinya menarik diri dari Hadramaut dan Al-Mahra. Hal ini menegaskan upaya pemerintah pusat untuk mengembalikan kendali penuh atas wilayah timur Yaman.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan kompleksitas situasi militer Yaman, di mana beberapa faksi bersenjata memiliki loyalitas berbeda, termasuk kesetiaan terhadap PLC, STC, atau kepentingan lokal masing-masing.
Menteri Pertahanan menyoroti perlunya upaya jembatan atau rekonsiliasi internal untuk memperkuat keamanan dan stabilitas. Tanpa koordinasi, militer Yaman berisiko mengalami fragmentasi yang lebih dalam.
Kepala Staf Umum menegaskan bahwa integrasi pasukan adalah kunci untuk menciptakan komando tunggal yang efektif, sehingga operasi militer di medan tempur dapat berjalan lebih terkoordinasi dan efisien.
Sejumlah pengamat menilai, pernyataan al-Daari bukan berarti perpecahan total. Ini lebih kepada peringatan bahwa beberapa keputusan perlu disesuaikan agar seluruh komponen militer merasa diikutsertakan dan tidak terpinggirkan.
Keputusan Ketua PLC dan dukungan Arab Saudi memang strategis, terutama dalam konteks penguatan pertahanan dan tekanan terhadap Houthi. Namun, pelaksanaan di lapangan memerlukan konsensus internal agar tidak menimbulkan gesekan.
STC sendiri selama ini menguasai wilayah strategis di selatan dan timur Yaman, termasuk Al-Mahra dan Hadramaut. Kehadiran mereka menimbulkan dualisme komando yang menjadi sumber ketegangan dengan MoD dan Staf Umum.
Panggilan untuk penarikan pasukan STC menandai langkah serius pemerintah pusat untuk mengkonsolidasikan kekuatan militer. Ini juga menjadi indikasi bahwa integrasi pasukan merupakan prioritas utama PLC dan Staf Umum.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Yaman masih berada dalam fase transisi di bidang militer, di mana loyalitas dan struktur komando masih perlu diselaraskan. Tanpa itu, operasi militer dapat terganggu dan keamanan sipil menjadi rentan.
Beberapa pengamat internasional menyoroti pentingnya Arab Saudi sebagai mediator dan penyokong kebijakan militer. Dukungan Riyadh bisa mempercepat integrasi pasukan dan mengurangi risiko konflik internal.
Di sisi lain, al-Daari menekankan bahwa keputusan yang terburu-buru tanpa pertimbangan matang berpotensi menimbulkan ketegangan baru. Evaluasi dan koordinasi internal sangat penting sebelum implementasi kebijakan di lapangan.
Kepala Staf Umum juga menekankan bahwa seluruh unit harus memprioritaskan keamanan nasional dan memusatkan perhatian pada ancaman Houthi, bukan konflik internal antar-faksi.
Upaya integrasi ini, jika berhasil, akan menciptakan militer Yaman yang lebih bersatu dan profesional, mampu mengendalikan wilayah secara efektif dan mendukung stabilitas nasional.
Namun, jalan menuju integrasi penuh tidak mudah. Banyak pasukan lokal masih mempertahankan otonomi, dan loyalitas politik kadang lebih dominan daripada kepatuhan struktural.
Kondisi ini menegaskan bahwa PLC perlu memainkan peran sebagai mediator, menyeimbangkan kepentingan politik, lokal, dan nasional agar keretakan tidak menjadi konflik terbuka.
Secara keseluruhan, pernyataan al-Daari dan Aziz menunjukkan adanya gesekan dalam militer Yaman, tetapi upaya rekonsiliasi dan integrasi terus berjalan. Keberhasilan proses ini akan menjadi kunci stabilitas dan keamanan negara dalam beberapa tahun mendatang.
loading...
0 comments:
Post a Comment